HUT ke-12 Muratara yang diperingati pada 23 Juni 2025 memang berlangsung dalam suasana resmi dan meriah. Tapi jauh dari panggung paripurna, perayaan itu punya makna yang lebih dalam—tentang perjalanan, tentang komitmen, dan tentang keyakinan bahwa daerah muda juga punya masa depan.
Dari Aspirasi Menjadi Institusi
Ketika Muratara resmi berdiri sebagai kabupaten pada 2013, harapan masyarakat sederhana: akses lebih mudah, pelayanan lebih dekat, dan pembangunan lebih merata. Dua belas tahun berlalu, kabupaten ini mulai menunjukkan bahwa harapan itu bukan mimpi kosong.
Dulu, banyak desa hanya bisa ditempuh berjam-jam dengan kondisi jalan buruk. Kini, jalan penghubung antarwilayah mulai dibuka, jembatan dibangun, dan penerangan jalan umum mulai menjangkau pelosok. Bahkan pusat pemerintahan telah memiliki Gedung Griya Iluk, tempat dilangsungkannya rapat-rapat penting seperti paripurna istimewa DPRD baru-baru ini.
Namun, pencapaian ini tidak serta merta datang dari langit. Ada keteguhan kepala daerah, kerja legislatif, dan desakan masyarakat sipil yang tak pernah berhenti mendorong kemajuan.
Gubernur Bicara Jujur: Jangan Bandingkan, Lihat Semangatnya
Saat menghadiri paripurna istimewa DPRD Muratara, Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru menyampaikan satu kalimat penting yang kini dikutip banyak orang:
“Jangan bandingkan Muratara dengan daerah yang sudah ratusan tahun. Tapi kalau semangat pelayanan, Muratara layak diuji.”
Pernyataan itu bukan pujian kosong. Ia datang dari realitas bahwa Muratara, di usia 12 tahun, telah berani mengambil banyak langkah berani: membuka kawasan tertinggal, menyederhanakan layanan, memperkuat sinergi antarinstansi, dan berinovasi dengan sumber daya yang terbatas.
Pemprov sendiri disebut telah mengalokasikan sejumlah dukungan untuk infrastruktur dasar Muratara, dari jalan, jembatan, hingga PJU.
Masyarakat Bicara: “Kami Butuh Lebih, Tapi Kami Juga Bersyukur”
Di balik pidato dan seremoni, suara masyarakat juga tak kalah penting. Warga Desa Beringin Makmur, misalnya, menyebut bahwa perubahan terasa, meski masih terbatas.
“Sekarang ke pusat kabupaten tidak selama dulu. PJU mulai masuk desa kami. Tapi kami masih butuh air bersih dan jaringan internet yang stabil,” ujar Ahmad, seorang petani karet.
Suara-suara seperti ini menjadi cermin bahwa kemajuan tidak selalu linier dengan kepuasan, dan itu normal. Tapi setidaknya, Muratara telah membuktikan bahwa mereka mendengar, bergerak, dan belajar dari masa lalu.
Parlemen yang Mulai Dewasa, Pemerintah yang Lebih Terbuka
Peran DPRD Muratara dalam memimpin rapat paripurna HUT ke-12 juga mencerminkan proses kedewasaan politik daerah. Tidak ada lagi gap mencolok antara eksekutif dan legislatif. Justru, keduanya saling mengisi.
Sekretariat DPRD sendiri kini menunjukkan kapasitas manajerial dan teknis yang lebih profesional. Hal ini penting, mengingat lembaga DPRD adalah cermin dari aspirasi rakyat yang sesungguhnya.
Muratara Hari Ini: Bukan Daerah Sempurna, Tapi Daerah yang Mau Berbenah
Muratara memang belum sepenuhnya “iluk”—seperti tema besar HUT tahun ini: “Bersama Kita Iluk”. Tapi ia sudah lebih baik dari dirinya yang kemarin. Dan itu cukup sebagai bukti bahwa arah pembangunan berada di jalur yang benar.
Tantangan ke depan akan tetap ada: dari kemiskinan, kualitas pendidikan, hingga pembukaan lapangan kerja. Tapi dengan energi kolektif yang terus dijaga, bukan tidak mungkin Muratara akan tumbuh menjadi kabupaten yang tak lagi dipandang dari usianya, tapi dari kinerjanya.
Karena sejatinya, membangun dari pinggiran bukan perkara mengejar pusat, melainkan membentuk pusatnya sendiri—di tanah yang dulu dilupakan, tapi kini mulai diperhitungkan.

Posting Komentar untuk "DPRD Muratara Gelar Paripurna HUT ke-12: Dari Representasi Menuju Kolaborasi"